Rabu, 13 Januari 2016

Manusia dalam budaya modern

MANUSIA DALAM BUDAYA MODERN

A.      Apa Dan Siapa Manusia Itu?
B.      Mengapa Penting Untuk Membicarakan Manusia?
C.      Apa Itu Modernisme?
D.     Bagaimanakah Sejarah Munculnya Modernisme?
E.      Bagaimana Konsep Manusia Modern?
F.      Bagaimana Pengaruh Modernisme Terhadap Manusia?
G.      Kesimpulan

A.     Apa dan Siapa Manusia Itu?

Manusia adalah “homo economicus”  “makhluk ekonomi.” Bagi orang yang menititberatkan pada keistimewaan manusia menggunakan symbol-simbol, memberi pengertian manusia adalah “animal symbolicum.” (Cassirer, 1987:41).
Sedangkan menurut orang yang memandang manusia adalah makhluk yang selalu membuat bentuk-bentuk baru dari bahan-bahanalam untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, memberi pengertian manusia adalah “homo faber,” dan yang menekankan pada sisi teologis memberikan batasan manusia sebagai khalifatullah atau khalifah fi al-ardhi dan seterusnya.

Pada surat al-Mu’minun  : (23) : 115, Allah bertanya kepada manusia sebagai berikut : “Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kamu sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

         Dari ayat ini, menurut Ahmad Azhar Basyir, terdapat tiga penegasan Allah, yaitu: (1) manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, (2) manusia diciptakan tidak sia-sia, tetapi berfungsi, dan (3) manusia akhirnya akan dikembalikan kepada Tuhan, untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang dilakukan pada waktu hidup di dunia ini, dan perbuatan itu tidak lain adalah realisasi daripada fungsi manusia itu sendiri.
         Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam, berfungsi memakmurkan dan memelihara alam (khalifah). Manusia sebagai makhluk yang diciptakan untuk melakukan pengabdian atau penghambatan diri kepada Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, ini fungsi manusia sebagai ‘Abd. Selain itu manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur, yaitu: unsur Ruh, unsur Jasmani dan Nafs.
         Untuk mengaktualisasikan potensi di atas, dibutuhkan kemampuan dan kualitas manusia, yaitu kualitas iman, kualitas ilmu pengetahuan, dan kualitas amal saleh untuk mampu mengolah dan menfungsikan dirinya sesuai dengan potensi yang diberikan Allah kepadanya.

B.     Mengapa Penting Untuk Membicarakan Manusia?
Pendidikan Agama ini? Berbicara tentang konsep manusia sesungguhnya berbicara tentang filsafat manusia. Ini sangat penting bukan saja untuk mengetahui apa dan siapa manusia itu sesungguhnya, melainkan juga untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menyeluruh itu.
Konsep tentang manusia juga penting karena ia termasuk bagian dari sebuah pandangan hidup. Kita, misalnya, dihadapkan pada, pertama, asumsi Darwinisme yang terkenal bahwa manusia berasal dari kera. Ataukah, kedua, kita lebih percaya konsep manusia sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Allah dari bahan baku tanah kemudian dari setetes air mani. Oleh karena itu, sangat beralasan bila Imam Al Ghazali mengatakan bahwa pengenalan akan hakikat diri merupakan dasar untuk mengenal Tuhan.
Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka, dan mempunyai potensi yang agung.
Upaya manusia dalam mengenal diri secara lebih utuh dan sempurna adalah suatu keniscayaan untuk menjadikan hidup yang bermakna dan bahagia. Manusia adalah actor utama penentu segala hal dan sebab akibat yang ada di muka bumi. Karena itulah, sudah saatnya manusia memahami hakikat dirinya, dari mana ia berasal, ke mana ia kembali dan apa tugasnya di muka bumi ini.
C.   Apa Itu Modernisme?
Kata modern dapat diartikan sebagai : sikap, cara berpikir, serta cara bertindak, sesuai dengan tuntutan zaman. Dari kata modern ini kemudian muncul beberapa kata lainnya, yaitu modernitas; modernism dan modernisasi. Modernitas berarti realitas kemodernan, sedangkan modernisasi adalah proses kemodernan. Modernisasi dapat diartikan sebagai aktivitas yang membawa kemajuan, perubahan, dan perombakan secara asasi susunan dan corak suatu masyarakat dari statis menuju dinamis; dari tradisional menjadi rasional; dari feodaln menjadi kerakyatan, dengan jalan mengubah cara berpikir masyarakat sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi segala hal semaksimal mungkin.
Beberapa ciri masyarakat modern adalah: mengedepankan cara berpikir, bertindak, dan memandang sesuatu yang masuk akal (rasional), bersifat terbuka, menerima hal-hal baru dan menerima kritik (inklusif), memberikan porsi dan kesempatan yang sama pada setiap orang (demokratis), mengedepankan persamaan (egalitarian), menghargai perbedaan (pluralis), penolakan terhadap tradisi dengan mengedepankan perubahan dan kemajuan (progresif), adanya perkembangan dan pengutamaan teknologi (orientasi saintifik), munculnya budaya mementingkan diri sendiri (individualis), berkembangnya sistem ekonomi yang berdasarkan atas besaran modal dan berorientasi semata-mata mengeruk keuntungan (kapitalis), mementingkan dan mengedepankan kebebasan (liberal), mengutamakan hal-hal yang bersifat materi (materialis), menjadi kesenangan hidup yang bersifat materi sebagai tujuan kebahagiaan (hedonistik), mengutamakan hal-hal yang konkrit dan bernilai guna dalam kehidupan (pragmatis), dan pemisahan antara hal-hal yang gaib termasuk agama dengan masalah keduniaan (secular).
Pertama, tahap mitis, yaitu tahap kebudayaan dimana manusia pada saat itu merasa kehidupannya dikepung oleh kekuatan-kekuatan ghaib di sekitarnya.
Kedua, tahap ontologis, yaitu suatu tahap kebudayaan dimana manusia mulai beranjak dari hal-hal yang ghaib, mitos-mitos, dan dewa-dewa.
Ketiga, tahap fungsionil, yaitu suatu tahap kebudayaan dimana manusia sudah benar-benar menjauhkan diri dari segala mitos dan kekuatan-kekuatan gaib. Tahap ketiga inilah yang disebut dengan tahap modern.
Dalam perspektif ini, ada tiga hal yang menjadi “jiwa” dari kemodernan itu.  Pertama, orang modern itu mengutamakan kesadaran diri sebagai subyek. Dialah aktor penentu dan pengubah segala sesuatu yang tidak terbelenggu dan terbudaki oleh pihak lain. Kedua, orang modern itu bersifat kritis. Artinya, orang modern cenderung menghilangkan sikap menerima apa adanya. Ketiga, orang modern itu bersifat progresif. Artinya ia selalu terobsesi untuk melangkah maju ke depan dan mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik. Ketiga hal ini tak bisa dipisah-pisahkan, karena ketiganya saling berkaitan.
D.     Bagaimanakah sejarah munculnya modernisme?
Sudah lama kita hidup di zaman modern. Tapi sudah tahukah kita dari  di mana asal muasal zaman modern ini? Secara historis, zaman modern mengacu pada kehidupan masyarakat dan organisasi yang lahir di beberapa negara Eropa, terutama Inggris, Perancis dan Jerman selanjutnya berkembang ke seluruh dunia.
Pertama, Eropa klasik. Pada masa ini Eropa adalah suatu kawasan yang didominasi oleh peradaban Yunani (abad ke-8 SM sampai abad ke-6 SM) dan Romawi Kuno (abad ke-10 SM sampai abad ke-5 M).
Kedua, Eropa pertengahan. Masa ini dimulai saat jatuhnya Romawi Barat oleh bangsa Jerman yang kemudian dipersatukan kembali oleh Raja Charlemagne dari Franka pada abad ke-5 M sampai jatuhnya Konstantinopel di Romawi Timur di abad ke-14 M. Pada masa pertengahan ini, pengaruh agama Kristen sangat dominan dan menancapkan kekuasaannya di semua sektor kehidupan, termasuk pemerintahan.
Karenanya, masa ini disebut dengan masa kegelapan (the dark age) bagi bangsa Eropa. Pada masa ini Eropa Barat dibelenggu oleh kekuasaan gereja yang otoriter dan anti ilmu pengetahuan. Barat benar-benar terperosok ke dalam kegelapan. Agama menjadi corong kekuasaan dan membelenggu kreatifitas akal pikir manusia. Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan ilmu pengetahuan.
       Gerakan renaisans merupakan titik tolak kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan yang terjadi pada era ini, seperti penemuan mesin percetakan dan penemuan benua baru oleh Columbus yang kemudian menjadi pemacu kemajuan ilmu pengetahuan pada masa berikutnya. Tokoh-tokoh lain yang mempunyai kontribusi besar dalam memajukan ilmu pengetahuan adalah: Nikolaus Kopernikus (1473-1543), Francis Bacon (1561-1662), Johanes Kepler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1642). Masing-masing tokoh ini memiliki kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
        Kopernikus menemukan teori bahwa bumi dan planet semuanya mengelilingi matahari. Matahari adalah pusat jagad raya ini (heliosentrisme). Teori ini melahirkan revolusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi. Francis Bacon adalah orang yang meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi yang modern dan menjadi pelopor dalam usaha untuk mensistimatisir secara logis prosedur ilmiah. Menurutnya ada tiga cara yang dapat ditempuh untuk itu: 1) mewawancarai alam; 2) orang harus bekerja menurut suatu metode yang benar; dan 3) orang harus bersikap pasif terhadap bahan-bahan yang disajikan alam, maksudnya, orang harus menghindarkan diri dari mengemukakan prasangka-prasangka terlebih dahulu.
                   Johanes Kepler adalah seorang ahli matematika. Ia menemukan tiga macam hukum gerak bagi planet-planet, yaitu : 1) bahwa planet-planet bergerak dengan membuat lingkaran bulat-panjang, dengan matahari sebagai salah satu titik api atau fokusnya; 2) bahwa garis yang menghubungkan pusat planet dengan matahari dalam waktu yang sama akan membentuk bidang yang sama luasnya; 3) bahwa kuadrat periode planet mengelilingi matahari sebanding dengan pangkat tiga dari rata-rata jaraknya terhadap matahari.
                   Tokoh lain yang juga memiliki kontribusi besar terhadap munculnya modernism adalah Rene Descartes (1596-1650). Ia dijuluki  “Bapak filsafat modern” dan peletak dasar aliran rasionalisme. Rasionalisme adalah paham yang berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan  adalah rasio atau akal.
                   Pemikiran “cogito ergo sum” inilah yang menjadi landasan filsafat modern yang menempatkan ego individual dan kemerdekaan akal manusia terhadap wahyu. Ada dua bentuk kesadaran baru yang lahir dari pemikiran ini, yaitu: pertama, bahwa “aku” ini adalah suatu subjek yang menghadapi alam lahiriah. Dalam arti inilah lingkungan batiniah bukan hanya dibedakan, melainkan juga dipisahkan dari lingkungan lahiriah. Kedua,  bahwa pengetahuanku mengenai kenyataan itu hasil pemikiranku sendiri dan bukan diturunkan dari tradisi atau wahyu. Cogito adalah  sebuah keyakinan yang sangat mendasar pada rasionalitas manusia, melebihi segala tafsiran dogmatis yang sudah ada. Karena itu, Descartes melandasi suatu bentuk kesadaran yang memahami kenyataan sebagai hasil perumusan rasional.
                   Penemuan subyektif ini membalikkan pusat kenyataan, dari kosmosentrisme (alam sebagai pusat perhatian) berubah menjadi antroposentrisme (manusia sebagai pusat perhatian). Dari dikuasai alam semesta dan lingkungan, hal-hal ghaib, termasuk Tuhan ke menguasai alam semesta dan menjadi penentu segala hal. Di sinilah pentingnya pemikiran Descartes bagi modernisme, yaitu menempatkan manusia sebagai subyek pemikiran, yang memunculkan beberapa aspek kesadaran lainnya, yaitu progresifitas, individualis, emansipasi, dan sekularisasi. Dalam konteks inilah pemikiran Descartes disebut sebagai Cartesian Revolution (revolusi ala Descartes), yang disejajarkan dengan Copernican Revolution (revolusi ala Kopernikus).
                   Gerakan lain yang memengaruhi zaman modern adalah gerakan “aufklarung” (kata Jerman) atau “enlightenment” (kata Inggris), yang muncul di abad ke-18. Gerakan “aufklarung,” yang diterjemahkan sebagai masa pencerahan, tidak hanya mempengaruhi kehidupan akademis, melainkan juga kehidupan sosial, politis, dan kultural. Disebut sebagai masa pencerahan karena pada masa ini manusia mencari cahaya baru dalam rasionya. Oleh sebab itu salah satu semboyan aufklarung yang terkenal adalah “Hendaklah anda berani berpikir sendiri” atau dalam bahasa Jerman disebut sapere aude. Gerakan aufklarung mulai berkembang di Inggris, karena suasana politik memungkinkan adanya pemikiran bebas. Dari sana berlanjut ke Perancis, yang mengembangkan pemikiran secara radikal, sehingga memunculkan revolusi Perancis. Gerakan ini kemudian berkembang di Jerman, dalam suasana yang lebih tenang.
                   Zaman ini disebut “pencerahan” karena tergantikannya “iman yang membelenggu” dengan keunggulan rasio (akal pikiran) yang diyakini mampu membawa manusia pada kebeneran dan kebahagiaan hidup. Pencerahan dilihat sebagai kesadaran baru mengenai tanggungjawab manusia untuk menggunakan rasio dan cara untuk memperoleh kebahagiaan yang diperoleh melalui kemajuan material. Masa aufklarung mempertajam pandangan renaisans bahwa dunia alamiah ini baik dan bernilai bagi diri manusia. Kemajuan dan perbaikan kodrati manusia bisa dilakukan sampai tak terbatas lewat pengetahuannya. Sains modern yang telah dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727) dianggap sebagai sarana ampuh untuk mewujudkan keinginan manusia.

E. Bagaimana Konsep Manusia Modern?
                   Bagaimanakah modernisme memandang sosok makhluk yang bernama manusia? Secara umum dapat dikatakan bahwa pandangan umum modernism terkait dengan konsep manusia diwakili oleh paham materialisme, rasionalisme, empirisme dan hedonisme.
                   Pertama, Materialisme merupakan paham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature ( Alam ). Materialism adalah paham dalam filsafat yang mengatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Materialisme berpendapat bahwa manusia dan alam ini tidak diciptakan oleh Tuhan, sebagaimana diakui dalam islam, namun tercipta melalui proses sebab akibat yang sepenuhnya bersifat materi.
                   Sebutan lain dari materialism adalah naturalism karena kepercayaannya yang tinggi pada hukum alam terutama hukum sebab akibat ( kausalitas ) semua kejadian didunia ini terjadi karena adanya mata rantai sebab akibat.
                   Kedua, Rasionalisme, rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal ( reason ) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Pengertian lain rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah dokrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman , dogma, atau ajaran agama.
                   Ketiga , Emtirisme adalah aliran filsafan yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia didapatkan dari sesuatu yang dapat dilihat, sesuatu yang nyata ( empiris ).
                   Keempat, Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang – senang, berpestapora, merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak.
                   Dapat disimpulkan bahwa materialisme memandang kejasmanian atau ( materi ) sebagai keseluruhan manusia. Rasionalisme dan empirisme berbicara tentang aspek internal manusia utamanya berkaitan dengan pengetahuan manusia.

F. Bagaimana Pengaruh Modernisme Terhadap Manusia?
                   Sebagaimana dijelaskan diatas, titik berangkat medernisasi adalah gerakan proses terhadap agama ( Kristen ) yang telah membelenggu Eropa barat.  Dokrin ini sering disebut dengan sekularisme. Dengan kata lain, bicara modernisasi tak terlepas dari pembicaraan sekularisasi, yakni segala upaya untuk membungkam dan menyampingkan peran dan nilai nilai agama dari ruang publik, sehingga peran dan nilai-nilai itu hanya diserahkan kepada masing-masing individu, bahkan pada titik yang paling ekstrim menolak adanya Tuhan.
G. Kesimpulan
                   Zaman senantiasa berubah. Zaman modern merupakan bagian dari perubahan tersebut dan merupakan salah satu mata rantai sejarah yang tak bisa dinafikan. Diakui, bahwa modernisasi telah membawa banayak perubahan positif untuk kehidupan manusia. Cara pikir arasionalis dan empiris yang merupakan karakter utama zaman modern telah mengilhami banyak ilmuan dan mendorong kemajuan tekhnologi yang banyak bermanfaat bagi kehidupan manusia.
                   Namun demikian, harus disadari bahwa modernisasi juga mambawa dampak negative bagi manusia. Akibat medernisasi yang sangat mengedepankan rasionalisme, empirisme, dan materialisme, manusia mengalami keterasingan. Manusia modern mengalami kekeringan spiritual. Ahli-ahli menemukan kebahagiaan dan kedamaian, manusia modern justru terjerembab kedalam jurang kehampaan.

                   Secara fisik manusia modern boleh dibilang gemerlap dan penuh dengan kemewahan. Tapi jiwa mereka sakit. Tujuan hidup yang semata-mata bersifat materi membuat meereka terperangkap dalam keserakahan dan ambisi yang tak berkesudahan. Ibarat meminum air laut, semakin direnguk justru semakin dahaga. Manusia membutuhkan dokter yang mampu menyembuhkan penyakitnya sehingga kemajuan tekhnologi yang mereka bawa seiring dengan kemajuan mental ddan spiritual mereka.

2 komentar: